|
Hembusaan angin semakin menusuk jiwa ini dan terus menembus dalam genang air mata. Bibir terkunci bertanda tak dapat berbicara. Air mata yang terus mengalir semakin deras dan deras. Lingkungn sekitar yang telah ku abaikan. Sesak dada ini mengingat senyum itu. Di mana Beliau yang dulu ?? mana senyum itu ?? dan mana tawa manis itu ??
Ku paling kan wajah ini ke arah kaca .. Pemandangan sepanjang jalan sedikit memberikan ketentramaan. Namun tetap firasat itu tidak baik. Lagi-lagi wajah itu terbayang dalam benak Ku.
Tuhan bila aku bisa berbicara langsung pada mu .. Aku ingin rasa sakit itu biar saja aku yang merasakan nya. Helaan nafas ini bertanda ku coba untuk tegar. Aku hanya lah seorang wanita kecil yang lemah, Yang akan menangis ketika melihat wajah brsinar itu terkulai lemah namun tetap mencoba memberi senyuman untuk menghibur jiwa nya.
Rasa lelah dan bosan sangat terlihat di wajah nya. Kala itu Ia terbaring lemah dan melihat ke atas langit-langit, seolah sedang membayang kan sesuatu, dan terlihat banyak sekali yang ia fikir kan. aku yang hanya bisa memandang dan tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa terdiam. Aku telah berkomitmen untuk tidak menangis di depan Nya. Mungkin beliau sudah terlalu lelah menahan rasa itu selama bertahun-tahun, aku tau Beliau pun orang yang lemah, namun yang membuat nya Ia kuat dan terus bertahan ia lah wanita hebat itu dan bidadari-bidadari kecil nya.
Di tengah rasa sakit yang mendera nya, terkadang ia masih mencoba untuk tersenyum dan terlihat bahagia. Beliau terus bertasbih dan mengingat nya.
Pagi itu aku Merasakan aura yang berbeda ketika Ku mencium tangan nya. Sesak sekali rasa nya. Entah apa yang terjadi saat itu, aku hanya menarik nafas dan berkata tidak akan terjadi apa-apa.
Suara bus yang melaju kencang dan angin yang begitu sejuk membuat ku berfikir untuk tertidur sesaat. Saat ku pejam kan mata ini bayangan-bayangan dan fikiran-fikiran aneh itu terus menghantui. Lalu ku putuskan untuk membuka buku. halaman demi halaman ku buka. Dan Entah ada apa ketika ku akan membuka halaman selanjut nya, Air mata itu jatuh. Hari itu aku telah berpamitan untuk tidak pulang, karena ada sebuah dakwah yang telah direncanakan. Biasa nya biasa-biasa saja. Tapi kali ini berbeda, setelah aku mencium tangan itu, kaki ini begitu berat untuk melangkah.
Dalam hati aku berkata .. Ya Rabb Ridhoi perjalanan ku kali ini, Semua ku lakukan hanya karena Mu ..
Dan benar saja. Di sela-sela kegiatan ku aku mendapat kan sebuah pesan yang mengejutkan, dan mengatakan kalau bisa aku segera pulang. Detik itu jiwa ini langsung tersentak, dan raga mulai terasa lemah. ku tundukkan wajah ku dan mulai menetes air mata ini. Tak ingin ada orang yang tau, sebisa mungkin ku sembunyikan wajah ini dari pandangan itu.
Air wudhu membasahi wjah ini, dan mulai ku bersujud pada nya, mengadu tentang pa-apa yang ku rasa dan yang ku ingin. isak tangis itu semakin menjadi-jadi. tapi tak ada satu pun yang mengetahui, karena sedikit tertutup oleh mukenah.
Aku langsung berlari menuju bus itu. Dan kembali bus itu menjadi saksi bisu perasaan ini.
Ternyata kembali aku harus ke tempat itu. Tempat yang tidak terlalu aku sukai. Tapi ini sudah jalan nya. mau tidak mau aku harus bersahabat dengan tempat itu.
Di sini lah Salah satu tempat yang kan menjadi sejarah hidup beliau. Dan sebisa mungkin aku akan terus mendampingi dan tetap berada di sisi nya, walau hanya sekedar memberikan sebuah senyuman, setidak nya aku yakin itu kan menjadi semangta tersendiri.
Wahai Calon bidadara Syurga. Kami para bidadari-bidadari kecil mu akan terus di sini. Akan terus memberikan senyuman dan sebuah kenyamanan. Kami yakin Engkau adalah Orang hebat. kami bangga bisa memiliki imam seperti mu.
Satu hal yang perlu engkau ketahui bahwa Kami sangat menyayangi dan mencinta mu Karena Allah.
Yakin Allah telah memiliki rencana yang Indah. Dan suatu saat Aku ingin mimpi itu terwujud. Aku ingin melihat Kalian para malaikat ku untuk kembali ke tanah air dengan membawa air zam-zam dan kurma rasull. Aku yakin itu bisa terwujud walau kemungkinan itu hanya 1 % saja.
Posting Komentar